Sabtu, 26 Januari 2013

shalat jumat


BAB II
PERMBAHASAN

A. Shalat Jum’at
      1. Pengertian Shalat Jum’at
            Shalat Jum’at adalah shalat fardhu dua rakaat yang dikerjakan pada waktu Zhuhur sesudah dua khutbah. Orang yang telah mengerjakan shalat jum’at, tidak diwajibkan mengerjakah shalat Zhuhur lagi.[1]

      2. Hukum Shalat Jum’at dan Dasar Hukumnya
Shalat Jum’at hukumnya fardhu ‘ain bagi setiap muslim yang mukallaf, laki-laki, merdeka, sehat, dan bukan musafir serta dikerjakan secara berjama’ah. Sebagaimana firman Allah SWT:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ ﴿٢﴾
Artinya       :  Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Al-Jumu’ah: 9)[2]
رُوَاحُ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌُ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ (متفق اليه)
Arinya         :  Pergi (ke tempat shalat) jum’at itu wajib atas tiap-tiap orang yang telah dewasa.
            Ada empat golongan yang tidak dikenakan kewajiban melakukan shalat Jum’at yaitu : hamba sahaya, perempuan, anak-anak dan orang sakit. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya :
الْجُمُعَةِ وَاجِبَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ اِلاَّ عَلَى اَرْبَعَةٍ عَبْدٍ مَمْلُوْكٍ وَامْرَاَةٍ وَصَبِيٍّ وَمَرِيْضٍ (رواه ابوا داود)
Artinya       :  Shalat Jum’at itu wajib atas setiap muslim, kecuali 4 golongan yaitu hamba sahaya, perempuan, anak-anak dan orang sakit. (H.R Abu Daud)[3]
            Selain itu hal-hal yang merupakan uzur jama’ah, juga dipandang sebagai uzur dalam melaksanakan shalat Jum’at.
            Orang tua bangka dan orang lumpuh, tetap wajib melakukan shalat Jum’at jika mereka mendapatkan pengangkutan, walaupun dengan menyewa ataupun meminjam. Begitu juga dengan orang buta juga tetap wajib melakukan shalat Jum’at bila ia dapat berjalan sendiri tanpa kesulitan atau ada orang yang menuntunnya, sekalipun dengan upah.
            Dan bagi orang yang mampu mengerjakannya kemudian ia tinggalkan maka akan dicap sebagai orang yang munafik, Nabi bersabda :
مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا طَبَعَ اللهُ عَلَى قُلُوْبِهِمْ (رواه ابوا داود والترمليذى)
Artinya       :  Barang siapa meninggalkan shalat Jum’at tiga kali karena menganggapnya enteng, niscaya Allah akan menutup mata hatinya. (H.R. Abu Daud dan Tirmidzy)[4]

      3. Syarat-Syarat Mendirikan Shalat Jum’at
            Untuk sahnya melakukan shalat Jum’at harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a.   diadakan dilingkungan bangunan tempat tinggal tetap (wathan);
b.   dilakukan dengan berjama’ah tidak boleh kurang dari 40 orang;
c.   dilakukan pada waktu Zhuhur, dalilnya adalah :
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يٌصَلِّى الْجُمُعَةَ حِيْنَ تَزُوْلُ الشَّمْسِ (رواه بخارى)
Artinya       :  Rasulullah SAW melaksanakan shalat Jum’at ketika matahari tergelincir. (H.R. Bukhari).
كُنَّا نُصَلِِّى مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجُمُعِةَ اِذَا زَالَتِ الشَّمْسِ ثُمَّ نَرْجِعُ فَنَتْبَعُ الْفَيْءَ اَيْ ظِلَّ الحيطان
Artinya       :  Kami shalat dengan Rasulullah SAW ketika matahari tergelincir, kemudian kami pulang dengan mengikuti bayang-bayang tembok. (H.R. Muslim).
d.   dua khutbah sebelum shalat;
            Keharusan khutbah pada shalat Jum’at itu dapat diketahui dari hadits Jabir Ibn Samurah ra:
اَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ خُطْبَتَيْنِ يَجْلِسُ بَيْنَهُمَا وَكَانَ يَخْطُبُ قَائِمًا
Artinya       :  Bahwasanya Rasulullah SAW selalu berkhutbah dua kali pada hari Jum’at, duduk di antara keduanya, dan ketika berkhutbah dengan berdiri.

      4. Sunnat Jum’at
            Sunnat-sunnat Jum’at antara lain:
a.   mandi;
                    Orang yang akan melakukan shalat Jum’at disunnahkan mandi sesuai dengan anjuran Nabi SAW dalam haditsnya :
اِذَا اَتَى اَحَدُكُمُ الْجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ
Artinya       :  Apabila seseorang kamu akan mendatangi shalat Jum’at maka hendaklah ia mandi. (H.R. Syaikhani).
مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَبِهَا وَنعمت وَمَنِ اغْتَسَلَ فَالْغُسْلُ اَفْضَلُ
Arinya         :  Barang siapa berwudhu’ pada hari Jum;at maka itu sudah baik, namun siapa yang mandi maka itu lebih baik.
b.   membersihkan tubuh dari segala bau yang tidak enak:
c.   memotong kuku dan kumis;
d.   memakai pakaian yang terbaik (terutama yang putih);
e.   memakai wangi-wangian;
f.    berdiam diri sambil mendengarkan khutbah.
            Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berkata-kata pada waktu imam menyampaikan khutbah, Imam Malik dan Abu Hanifah mengatakan hukumnya haram berdasarkan :
b.      ayat Al-Qur’an :
Artinya       :  Dan apabila dibacakan Al-Qur’an maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang. (Al-A’raf:  204)
2. Hadits :
اِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاْلاِمَامُ يَخْطُبُ اَنْصِتْ فَقَدْ لَغَوْتَ
Artinya       :  Bila engkau mengatakan ‘diamlah’ kepada temanmu di hari Jum’at, ketika imam sedang berkhutbah, maka sesungguhnya engkau telah berbuat sia-sia. (H.R. Bukhari).
            Sedangkan Imam Syafi’I dalam Qawl Jadid-nya berpendapat bahwa berdiam diri itu adalah sunnah dan tidak haram berkata-kata pada saat khutbah berlangsung.

      5. Khutbah Jum’at
            Shalat Jum’at ialah perkataan yang mengandung mau’izhah dan tuntunan ibadah yang diucapkan oleh khatib dengan syarat yang telah ditentukan syara’ dan menjadi rukun untuk memberikan pengertian para hadirin, menurut rukun dari shalat Jum’at.
            Khutbah Jum’at terbagi menjadi dua yang antara keduanya diadakan waktu istirahat yang pendek dan khutbah ini dilakukan sebelum shalat.[5]
            Adapun syarat-syarat dua khutbah Jum’at ada tiga belas.
a.   Yang berkhutbah harus laki-laki.
b.   Yang berkhutbah bukan orang yang tuli, yang tidak dapat mendengar sama sekali.
c.   Khutbah harus dilakukan dalam bangunan yang digunakan shalat Jum’at.
d.   Suci dari hadas besar dan hadas kecil.
e.   Badan, pakaian dan tempat khatib harus suci dari najis.
f.    Menutup aurat.
g.   Berdiri di waktu melakukan khutbah itu bagi yang berkuasa.
h.   Duduk antara dua khutbah dengan istirahat yang pendek.
i.    Berturut-turut antara kedua khutbah itu dengan shalat.
j.    Berturut-turut antara kedua khutbah itu dengan shalat.
k.   Suaranya keras sehingga dapat didengar oleh paling sedikit 40 orang pengunjung mesjid.
l.    Khutbah dilakukan di waktu Zhuhur.
m.  Rukun-rukun khutbah itu harus dengan bahasa Arab.[6]

Adapun rukun-rukun khutbah Jum’at ada 6.
a.   Memuji Allah pada tiap-tiap permulaan dua khutbah, sekurang-kurangnya membaca hamdalah.
b.   Mengucapkan shalawat atas Rasulullah SAW dalam kedua khutbah itu, sekurang-kurangnya, وَالصَّلاَةُ عَلَى الرَّسُوْلِ , artinya “Dan shalawat atas Rasulullah SAW”.
c.   Membaca syahadatain (dua kalimat syahadat).
d.   Berwasiat dengan taqwallah, yakni menganjurkan agar taqwa kepada Allah pada tiap-tiap khutbah, sekurang-kurangnya  اِتََّّقََُوااللهَartinya takutlah kamu kepada Allah.
e.   Membaca ayat Al-Qur’an barang seayat di salah satu kedua khutbah itu dan lebih utama di dalam khutbah yang pertama.
f.    Memohonkan ampunan bagi kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat.[7]
Adapun sunat-sunat khutbah Jum’at antara lain.
a.   Khatib berdiri di atas mimbar atau tempat yang tinggi.
b.   Memberi salam kepada hadirin dan menghadap kepada yang hadir.
c.   Khatib berpegang sebuah tongkat atau panah dan atau yang serupa dengan itu.
d.   Duduk istirahat sejenak sesudah mengucapkan salam.
e.   Hendaklah fasih dan keras suaranya, agar yang mendengarkannya paham akan kata-kata yang diucapkan.
f.    Hendaklah khutbah itu lebih pendek dari shalat.
g.   Khutbah hendaknya disudahi dengan permohonan ampunan kepada Allah, dan yang lebih pada khutbah kedua.
h.   Supaya jangan ada seorangpun yang berkata-kata ketika khutbah sedang dibaca.
i.    Supaya khatib masuk ke mesjid ketika khutbah akan dimulai dan gugurlah dari padanya sunat tahyat mesjid.
j.    Membaca surat Al-Ikhlas di waktu duduk antara dua khutbah